Ilmu resep sebenarnya telah dikenal sejak timbulnya pennyakit. dengan adanya manusia di dunia ini mulai muncul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit. Ilmuwan-illmuwan yang berjas dalam perkembangan kefarmasian dan kedokteran adalah:
Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai sejak zaman Belanda sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat ke Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan
Pekerjaan kefarmasian, terutama meracik obat-obatan, dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh asisten apoteker di bawah pengawasan apoteker. Apoteker adalah seorang yang ahli farmasi seperti disebut dalam definisi diatas. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada tiga macam, yaitu apotek biasa, apotek darurat, dan apotek dokter.
Dalam melakukan kegiatan di apotek, mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata "pharmacon" yang berarti obat atau racun, dan "pole" yang berarti membuat.
Sumber: Ilmu Meracik Obat (Syamsuni, 2016).
- Hippocrates (460-370 SM), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Beliau disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran.
- Dioscorides (abad I setelah Masehi), adalah seorang ahli botani Yunani yang merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Buku karyanya antara lain De Materia Medika. Obat-obatan yang dibuatnya, yaitu aspiridium, opium, ergot, hyosyamus, dan cinamon.
- Galen (130-200 M), adalah seorang dokter dan ahli farmasi dari Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi adalah "Farmasi Galenika".
- Philippus Aureolus Theophrastus Bombastus Von Hohenheim (1493-1541 M), seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus, sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.
Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai sejak zaman Belanda sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat ke Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan
Pekerjaan kefarmasian, terutama meracik obat-obatan, dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh asisten apoteker di bawah pengawasan apoteker. Apoteker adalah seorang yang ahli farmasi seperti disebut dalam definisi diatas. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada tiga macam, yaitu apotek biasa, apotek darurat, dan apotek dokter.
Dalam melakukan kegiatan di apotek, mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata "pharmacon" yang berarti obat atau racun, dan "pole" yang berarti membuat.
Sumber: Ilmu Meracik Obat (Syamsuni, 2016).
Komentar
Posting Komentar